Featured Post
- Dapatkan link
- Aplikasi Lainnya
Label
Nilai Akademik Bukan Penentu Kesuksesan Anak
Juni 25, 2023
0 komentar
Libur sekolah telah tiba, seluruh anak telah mendapatkan laporan pembelajaran selama satu semester lewat rapor yang telah dibagikan oleh guru. Di tengah antusias menerima dan membagikan rapor kepada siswa, ada satu hal yang menggelitik, apakah itu? Saya memiliki keyakinan bahwa nilai akademik bukan satu-satunya penentu kesuksesan anak sehingga harus menjadi sorotan utama para orang tua.
Anak diciptakan dengan berbagai karakter serta kelebihannya masing-masing. Anak yang tidak pintar dalam beberapa mata pelajaran sekolah seringkali dianggap bodoh, padahal belum tentu. Anak yang tidak pintar dalam Matematika ataupun sains lainnya, bisa saja mumpuni di bidang Bahasa ataupun Seni, maka sangat tidak adil jika sebagian orang tua hanya menyoroti nilai akademik tanpa melihat potensi di bidang lain. Ingat, nilai akademik yang tertulis dalam laporan pembelajaran siswa hanyalah sebatas angka, karangan manusia yang sewaktu-waktu dapat dimanipulasi sedemikian rupa.
Biarkan Anak Menjadi Diri Sendiri
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada tipikal anak yang selalu suka menjadi juara kelas, tampil di depan banyak orang, selalu unggul, dan selalu ambisius. Namun, bukan berarti anak yang lebih pasif tidak dapat diandalkan. Karakter anak sedikit banyak terbentuk melalui lingkungannya. Jika ada seorang anak yang tidak mau dikalahkan, ingin selalu tampil, bisa jadi semua tercipta atas dasar tuntutan orang tua. Kita tidak dapat terus-menerus melakukan hal itu,'kan?
Anak-anak bebas menjadi dirinya sendiri, menentukan dan menjalani apa yang telah diputuskan. Tugas orang tua cukup mengajarinya hingga mereka berusia 12 tahun, setelah itu? Biarkan anak menentukan keinginannya sendiri, karena selain nilai akademik yang bagus, minat dan bakat yang mereka miliki jauh lebih penting untuk dikembangkan.
Sejujurnya, ada kekhawatiran tersendiri dalam diri saya sehingga akhirnya menuliskan artikel ini, mengapa? Kekhawatiran pertama saya ialah takut jika "kebiasaan" orang tua selalu mengedepankan, menyoroti dan mengharuskan nilai akademik anak untuk selalu bagus justru akan membuat anak mengambil "jalan pintas" yang penting nilainya tinggi padahal faktanya mereka sendiri tidak mengerti akan pelajaran yang sedang diajarkan.
Kekhawatiran kedua ialah menimbulkan rasa insecurity terhadap anak-anak lainnya yang mendapati nilai akademik jauh di bawah teman-temannya sehingga "melabeli" diri sebagai anak bodoh. Lagi-lagi semua ini terjadi atas kebiasaan-kebiasaan yang tidak seharusnya. Jika demikian, maka akan semakin banyak yang merasa rendah diri kemudian menarik diri hingga terpuruk semakin dalam tidak tahu dan tidak mengenali potensi besar dalam dirinya. Bahaya sekali, bukan?
Karakter Unggul, Kepribadian Terpuji Jauh Teruji!
Menjajaki kesuksesan tidak hanya didapati dengan mengantongi nilai akademik tinggi. Sudah berapa banyak orang-orang dengan nilai akademik number one tapi harus kalah di lapangan karena tidak disertai karakter unggul dan kepribadian terpuji. Kesuksesan beriringan dengan kerja keras, semangat pantang menyerah dan terus mau berubah mengikuti perkembangan. Benar?
Saya menganalogikannya seperti ini, nilai akademik mayoritas diperoleh dari kecerdasan terstruktur, sederhananya kita sebut "hapalan". Rata-rata soal ujian yang diberikan di penghujung semester adalah soal-soal yang sudah pernah dibahas dan dibaca sebelumnya, jadi ketika seseorang memiliki daya ingat atau kemampuan menghapalnya tinggi, maka ia akan sangat mudah menjawab soal-soal yang diberikan. Sedangkan kesuksesan di dunia kerja membutuhkan lebih dari itu. Rintangan pekerjaan akan jauh lebih kompleks dan membutuhkan keahlian, kematangan berpikir, pengalaman, serta kemampuan seseorang dalam hal praktik, bukan sebatas teori.
Analogi tersebut ternyata berbanding lurus dengan pemaparan Seymour Epstein, seorang profesor psikologi University of Massachusetts, mengungkapkan bahwa "Sukses dalam hidup lebih banyak berkaitan dengan pikiran, pengalaman, atau kecerdasan praktis daripada kecerdasan nilai. Dia percaya bahwa orang yang menghadapi banyak masalah dan tantangan dalam hidupnya biasanya lebih sukses daripada mereka yang pintar secara kebetulan."
5 Hal Penting yang Wajib Orang Tua Pahami
Setelah melihat paparan analogi di atas, mari saatnya kita mencari solusi bersama dan menyelaraskan pandangan kita tentang nilai akademik itu sendiri, bahwa nilai akademik hanya sebatas angka, bukan patokan utama kemampuan seorang anak. Lagi pula, tidak semua bidang masuk dalam penilaian rapor, 'kan? Bisa saja kemampuan anak - anak kita terletak pada bidang yang tidak tertulis di dalamnya.
Untuk itu, sebagai orang tua, pahami dan yakini 5 hal penting di bawah ini demi anak - anak cerdas berpikir, berperilaku serta memiliki jiwa dan mental yang lebih sehat. Apa saja?
1. Nilai Akademik Hanya Evaluasi
2. Tanamkan Kejujuran dalam Setiap Proses
3. Apresiasi Usaha daripada Hasil
4. Kenali dan Perhatikan Minat dan Bakat Anak
5. Ajarkan Anak Tentang Toleransi
Penutup
Menjadi orang tua yang mampu memutus stigma bahwa nilai akademik tinggi adalah keharusan bukanlah suatu hal yang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Menyamakan persepi bahwa nilai akademik bukan penentu kesuksesan anak sejatinya adalah tugas kita semua. Anak bebas mengembangkan potensi mereka, anak juga berhak mendapatkan dukungan untuk setiap kelebihan yang mereka miliki karena anak sukses bukan milik mereka yang memiliki nilai akademik tinggi.
Postingan Populer
My Best Essential Oil : Anak Kembali Riang, Ibu Senang
- Dapatkan link
- Aplikasi Lainnya
Tanah Kavling River Valley Medan Siap Bangun!!
- Dapatkan link
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar